Mengenal Kisah Sejarah Objek Wisata Religi Asta Gumuk/Brambang, Sumenep - Madura

Mengenal Kisah Sejarah Objek Wisata Religi Asta Gumuk/Brambang, Sumenep - Madura
Kisah Sejarah Objek Wisata Religi Asta Gumuk/Barangbang, Sumenep - Madura.

Unews.id - Diujung paling buncit arah timur Pulau Madura, terdapat sebuah Kota kecil yang begitu kental dengan nuansa islami. Ribuan ragam warisan dan kekayaan sejarah bernilai religi menjadikan tempat ini menjadi salah satu bukti kebesaran sang Maha Pencipta (Allah SWT) kepada hambanya. Tanah subur membentang luas di Pulau Garam ini, memiliki magnet besar bagi siapapun yang datang menginjakkan kakinya di Kabupaten Berlambang Kuda Terbang (Sumenep).   

Sebuah Kisah Sejarah Objek Wisata Religi Asta Gumuk/Brambang yang terdapat di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yakni arah timur dari jantung Kota, sekitar 2 – 3 kilometer (bersebrangan dengan Bandara Trunojoyo Sumenep). Terdapat sebuah makam/kuburan ulama besar (salah satu penyiar agama islam yang begitu sakti dan disegani). Waliyaallah tersebut bernama Kyai Ali Brambang.

Istilah Brambang diambil dari tanah lapang tempat kuburan beliau disemayamkan pada tahun 1902 H, yakni di dusun Brambang. Bagi warga sekitar, tempat sakral ini disebut sebagai Asta Gumuk dikarenakan makamnya terletak di area tanah tinggi.

Dalam silsilah keluarga, Kyai Ali, terlahir kedunia berasal dari keturunan para ulama-ulama kesohor kala itu, seperti Syekh Maulana Sayyid Jakfar, As Sadik (Sunan Kudus) Pangeran Katandur, K. Hatib Paddusan, K. Hatib Sendang, K. Hatib Rajul, K. Hatib Paranggan.

Admin Unews.id sengaja menceritakan Kisah Kesaktian Kyai Ali Brambang, dikarenakan hingga sampai detik ini, makam/kuburannya masih dijadikan sebagai tempat sakral (bagi warga sekitar dan bahkan kerap menjadi salah satu tujuan berlabuhnya para peziarah yang datang dari berbagai daerah).

Baca Juga: 4 Objek Wisata Bersejarah Diujung Timur Pulau Madura Area Kota Sumenep

Seperti apa kisahnya? Yuk Kita Intip Kisah Sejarah Objek Wisata Religi Kiyai Ali Brambang berikut ini.

Berdasarkan Kisah Spiritual Kesaktian Kyai Ali Brambang semasa hidupnya. Beliau memiliki keistimewaan diluar naluri kemampuan manusia umumnya. Beberapa keahlian yang dimiliki, salah satunya beliau tunjukkan dengan mengajari seekor kera, agar bisa berbicara dan mengaji.

Masa lampau, saat Sumenep masih menjadi daerah rintisan berbentuk Kerajaan. Terdapat seorang keturunan kerajaan menitipkan putranya kepadanya untuk dididik agar anak tersebut bisa mengaji. Suatu hari saat putra raja tersebut mengaji, pernah dipukul oleh K. Ali. Namun putra sang raja tidak terima dan mengadunya kepada orang tua atas perlakuan yang telah dilakukan oleh guru.

Rajapun tak terima setelah mendengar keluh kesah bahasa lisan dari putra tercinta, emosi bercampur amarah makin tersulut lantaran tak tega mendengar buah hatinya dipukul. Sang raja akhirnya memerintahkan prajurit untuk memanggilnya dan menanyakan, maksud dan tujuan, kenapa putraku sampai dipukul. Saat menghadap, secara tegas tanpa rasa takut, Kyai Ali mengatakan bahwa, dirinya tidak ada niatan memukul putranya, melainkan hanya ingin mengusir sifat kebodohan yang ada di benaknya.         

Mendengar jawaban singkat yang dilayangkan Kyai, membuat raja semakin meronta-ronta, dianggap putranya tidak bisa apa-apa (bodoh). Amarah sang pemimpin semakin menjadi-jadi hingga dirinya terucap sebuah ucapan yang dirasa K. Ali tidak akan mampu melakukannya.

Beliau mengatakan, “Jika dipukul merupakan cara mengajar yang engkau contohkan kepada anakku bisa membuatnya pintar, maka sekarang coba bawalah seekor kera ini, ajari dan kamu harus bisa mengajarinya berbicara dan mengaji,” Kata Raja kepada K.Ali.  

Tanpa berpikir panjang, akhirnya dibawalah seekor kera tersebut kerumahnya. Setiap malam Kyai secara sabar mengajarinya. Hingga sampai disuatu malam, tepatnya pada malam ke 39, beliau memberikan seutas tali tambang dan mengigatkan pada jarinya. Tali tersebut terbuat dari sabut kelapa, setelah diikatkan pada jari dan talinya dibakar. Saat dibakar K. Ali sembari mengucapkan sebuah kata-kata ijabah kepada kera itu.

“Wahai kera, jika api itu sudah sampai pada jari tanganmu dan terasa panas, maka teriaklah dan katakan panas,”. Subhanaallah, akhirnya berkat doa ijabah beliau yang ia tunjukkan pada seekor kera, saat itu juga kera akhirnya bisa berbicara dan mengaji layaknya manusia umumnya.  

Kini tiba saatnya, kera dibawa kembali pulang ke keraton dan akan menunjukkan kemampuan mengajinya di depan sang Raja. Setibanya di padepokan, raja mengadakan sebuah pesta (pertunjukan besar) dengan disaksikan oleh seluruh para punggawa kerajaan.

Setelah semuanya berkumpul, Kera tersebut disuguhi dengan kitab suci Alquran. Suasana hening sesaat berbuah takjub, setelah raja dan para punggawanya, mendengar dan melihat dengan mata telanjang bahwa, seekor kera sedang mengaji dengan lantunan suara merdu. Sungguh Luar Biasa.  

Sesaat setelah lantunan ayat Al-Quran selesai. Kyai Ali melemparkan 1 buah pisang kepada kera itu sembari berkata "Ilmu Kalah Sama Watak" arti dalam penggunaan Bahasa Madura "Elmo Kala Ka Bebethe' ". Saat itu juga, sang raja akhirnya luluh dan mengumandangkan sebuah kata-kata.

“Barangsiapa yang menuntut ilmu tidak menginjak kaki di tanah Brambang, maka ilmu yang didapatkan tidak akan syah,” Kata Raja  

Jika ditelisik secara akal sehat, Kemampuan dan Kesaktian Kyai Ali Brambang ini tidak masuk akal dan seolah tidak mungkin bisa dilakukan oleh siapapun.

Kisah Sejarah Objek Wisata Religi Asta Gumuk/Barangbang, Sumenep – Madura merupakan bukti kekuatan dan keesaan Allah SWT bahwa apapun bisa saja terjadi, apabila kita sudah pasrah, berserah diri, dan bertawakal kepadanya.

Hingga saat ini, Asta Gumuk/kuburan Kyai Ali Brambang, tidak pernah terlihat sepi dari para peziarah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. (yy)