" Batik On The Sea " Solusikah Bagi Pembatik Sumenep?

" Batik On The Sea " Solusikah Bagi Pembatik Sumenep?
" Batik On The Sea " Solusikah Bagi Pembatik Sumenep?

Sumenep-, Dalam rangkaian beberapa kalender event visit Sumenep pun telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep sejak tahun 2017 lalu, yakni dengan tujuan untuk memperkenalkan berbagai potensi yang ada di Sumenep sehingga diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dengan banyaknya jumlah kunjungan wisatawan.

Salah satu contohnya yaitu event ' batik on the sea ' atau bisa disebut peragaan busana yang berbahan batik tulis Sumenep yang memiliki ciri khas tersendiri, yakni memiliki keindahan perpaduan warna yang indah dengan kekontrasannya dan motifnya yang halus serta menyimbolkan tentang kultur yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Sumenep pada umumnya.

Sejak tahun 2017 lalu, event peragaan batik tulis    telah digelar, yakni dengan diawali ' Batik On The Street ' yang pada kala itu justru menuai kecaman oleh berbagai kalangan masyarakat Sumenep lantaran ada beberapa pesertanya mengenakan busana batik yang dianggap menunjukan auratnya, dan di tahun 2018 event  ' Batik On The Sea ' digelar di pantai Lombang, yang juga menuai kritikan dari para pembatik Sumenep, lantaran bukan batik tulis Sumenep yang dipamerkan di event tersebut, melainkan batik tulis daerah lain yang dipamerkan pada waktu itu. Dan pada event ' Batik On The Sea ' tahun 2019 ini, dengan harapan semarak dan meriah, namun peragaan busana batik tulis khas Sumenep yang digelar di pantai Slopeng kali ini terlihat sepi dari para wisatawan dari luar daerah.

Peragaan busana batik tulis khas Sumenep ini dilaksanakan dan merupakan inisiasi Dinas PU Bina Marga Sumenep yang hingga saat ini rutin diselenggarakan, dengan harapan meningkatnya produksi dan penjualan batik tulis khas Sumenep yang secara langsung meningkatkan perekonomian para pembatik.

" peragaan busana batik tersebut tujuannya sangat jelas, namun hanya caranya saja yang kurang benar, sehingga anggaran dari pemerintah Sumenep terbuang sia-sia ", jelas pemerhati budaya Sumenep, Luki Nurhidayat.

Luki juga menuturkan bahwa event yang tercantum di kalender event visit Sumenep memiliki target sendiri, yakni banyaknya jumlah kunjungan wisatawan dari luar daerah. Namun kenyataannya malah hanya sebagian warga Sumenep sendiri yang datang.

" Targetnya kan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dari luar daerah, sehingga keindahan batik tulis Sumenep dikenal dan banyak diminati ", ungkap Luki.

Selain itu menurutnya pada dunia batik tulis Sumenep, hingga saat ini tidak mengalami perubahan yang signifikan, sehingga dirasa perlu bagi pemerintah Kabupaten Sumenep untuk lebih teliti dan paham dalam memilih pelaksana kegiatan atau event, dengan cara memilih tenaga ahli yang memang profesional dan ahli dalam bidang promosi potensi budaya Sumenep.(arief/fif)